Skip to content

Vonis

Puisi-puisi Jengkry

Vonis

Aku ingin menjadi tentara yang diputus bebas
setelah memutus nyawa manusia—
anak seorang ibu yang bakal memberikan nyawanya sendiri
agar di rumah tak ada yang kelaparan,
anak seorang ayah yang bekerja tak kenal waktu
demi kehormatan keluarga
Demikian seorang anak dibentuk dalam kesulitan
merangkak dari gang-gang pinggir kota tak berbelas kasih
hanya untuk dibunuh oleh negara yang bungkam

Aku ingin menjadi tentara yang diputus bebas
setelah memutus rantai kehidupan-penghidupan
merampas tanah kaum tertindas
lantas menjualnya pada korporasi culas
mengeruk hingga tandas kekayaan alam
sambil teriak: enkaeri harga mati!

Aku ingin menjadi tentara yang diputus bebas
setelah jadi pejabat negara dan duduk
di kursi kekuasaan sipil
untuk legitimasi teror kelompok anti-pembangunan
untuk lindungi modal majikan

Aku ingin menjadi tentara yang diputus bebas
setelah joget-joget di atas kuburan massal
korban genosida dan perkosaan
Malah besoknya aku jadi presiden
karena mereka gandrung akan jogetku yang menggemaskan

Aku ingin menjadi tentara yang diputus bebas
setelah membantai manusia di Papua
dengan peluru tajam dan mi instan

Ya, ada kalanya aku tak diputus bebas
setelah semua perintah penuh kebanggaan ini
Kadang aku dihukum untuk menjalani pelatihan
agar eksekusi lebih sempurna tanpa jejak
Seperti ketika aku menyiramkan air keras
ke wajah rakyat yang berani mengomentari bercak darah
pada sela-sela loreng seragamku

Ya, ya aku ini tentara
Aku bisa lakukan apa saja
Dari yang lucu-lucu sampai yang sadis-sadis
Dan aku tetap bisa tegakkan kepala
sambil teriak: enkaeri harga mati!
Persetan republik ini jadi kandang babi
yang penting tetap ada loreng-lorengnya

Depok, Mei 2026.

Foto: chenspec/Pixabay.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan brutal
Tidak seperti kata Pak Sapardi
mencintai dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku ingin menjadi brutalis sejati dalam mencintaimu
Meruntuhkan keangkuhan dalam bercinta

Aku ingin mencintaimu dengan brutal
Seperti ganja yang dilarang negara
Ditumbangkan terus-menerus
namun tak pernah berhenti tumbuh

Aku ingin mencintaimu dengan brutal
Seperti masyarakat adat mempertahankan tanahnya
Ya, aku ingin mencintaimu dengan brutal
seperti melawan tirani yang menjadikannya pembangkang

Karena cinta tidak pernah sederhana, sayang
Ia bagai letusan gunung
Memuntahkan magma
lalu menyuburkan!

Depok, Mei 2026.

Jengkry bergiat bersama perpustakaan jalanan di sekitar Depok. Memupuk benih-benih perlawanan di sekitarnya sembari menyuarakan kegelisahannya sendiri lewat bait-bait puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *